
BERITAGOOGLE.COM, Jakarta - Partai Demokrat berpotensi dirundung pertarungan internal karena para aktornya melihat citra dan kharisma ketua umumnya SBY memudar. Masing-masing aktor lantas bersiap merebut kursi tampuk pimpinan.
Pemilu masih sekian bulan lagi. Namun di tubuh Demokrat kini berlaku pepatah, ‘siapa cepat, siapa berani, siapa beruntung, bisa dapat’ sebab kuasa SBY hampir pasti berakhir 2014 nanti. Jabatan Ketum DPP Partai Demokrat pasca-lengsernya Anas Urbaingrum dan SBY nanti, bakal jadi rebutan para aktor yang punya rasa percaya diri.
Max Sopacoa dan Marzuki Alie adalah dua dari nama-nama aktor yang diprediksi siap bersaing dan berkompetisi. Memang menjadi hak masing-masing elite Demokrat untuk bersaing merebut jabatan Ketum di parpol biru itu.
Wacana rebutan Ketua Umum Partai Demokrat pasca-SBY kian marak. Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, Max Sopacua, mengingatkan bahwa dirinya siap bersaing dengan Ipar SBY, Pramono Edhie Wibowo.
"Saya 100 persen siap maju sebagai Ketua Umum Partai Demkrat. Salah satu yang mempersiapkan diri sejak lama untuk bersaing menjadi ketum setelah nanti Pak SBY tidak menjabat, adalah saya," tegas Max Sopacua.
Max menilai dirinya adalah sosok tepat yang bisa membesarkan partai tanpa ada konflik dan bisa merangkul semuanya. Selain itu, dia mengaku memiliki kemampuan berkomunikasi secara intensif dengan pengurus DPC di seluruh Indonesia. Bukan main, tentunya.
Demokrat secara internal belakangan ini diramaikan oleh pro-kontra para aktornya atas deklarasi Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI) milik Anas Urbaningrum. Meski Ketua Umum Demokrat SBY tidak marah dengan kehadiran kader Demokrat di acara deklarasi PPI itu, namun Wakil Sekretaris Jenderal Demokrat Saan Mustofa yang menghadiri deklarasi, Minggu 15 September lalu, harus membayar mahal, dia dipecat dari jabatan Sekretaris Fraksi Demokrat di DPR.
Saan mengaku tidak terlibat aktif di PPI. Sebagai kader, Saan tahu diri bahwa ia harus loyal kepada partai. Namun penyingkiran dirinya dari jabatan sekretaris fraksi Demokrat itu menjadi bukti bahwa kubu Anas dikebiri.
Beberapa bulan lalu, Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono menyadari bahwa partai sedang surut. SBY mulai mencari simpati publik agar rakyat memilih partainya. Hal itu dapat ditelusuri dari anjuran SBY agar partainya legowo jika kalah dalam pemilu legislatif 2014.
Berdasarkan hasil survei, perilaku banyaknya elite demokrat yang terlibat korupsi dan otomatis akan membuat opini buruk Demokrat. Hal itu akan membuat perolehan suara Demokrat merosot.
Dalam hal ini, pengamat politik Sugeng Soerjadi Syndicate (SSS) Toto Sugiarto menilai sikap SBY itu dimaksudkan agar partai Demokrat siap mental melihat fakta hasil pemilu. "SBY adalah orang yang logika politiknya jalan. Dia bisa mengatakan itu sembari warning kepada anggota partai, tetapi juga menarik simpati," kata Toto.
Dengan surutnya SBY, wajar jika para aktor Demokrat ingin merebut tahta Ketua Umum DPP Partai Demokrat yang diincar banyak pihak. Otomatis, parpol itu hiruk pikuk dengan berbagai ihwal, apakah itu hal yang baik maupun yang buruk. Inilah risiko demokrasi liberal yang membuat ulah manusia bagai gerak-gerik kadal. [berbagai sumber]
sumber:
inilah