INILAHCOM, Jakarta - Starting Five resmi menjadi operator liga basket Indonesia yang kembali menggunakan nama Indonesia Basketball League (IBL).
Starting Five ditunjuk PB Perbasi sebagai operator baru menggantikan PT Deteksi Basket Lintas (DBL). Sebelumnya, mereka menjadi operator selama lima tahun dan kini memutuskan tak memperpanjang kontrak. Starting Five mendapatkan kontrak selama dua tahun dengan opsi tambahan tiga tahun.
"Terima kasih kepada PT Deteksi Basket Lintas Indonesia yang telah bekerja sama dengan kami selama lima tahun. Kini, Starting Five yang resmi menjadi operator baru," ujar Sekretaris Jenderal PB Perbasi, Amran A Sinta.
"Setelah kontrak dengan DBL habis, kita tanya apakah mau memperpanjang kontrak. Mereka bilang tidak. Setelah itu dibuat short brief. Sebelum menunjuk Starting Five, kami mengundang empat promotor lain dan Starting Five yang menurut kami paling siap mempresentasikan konsep," imbuhnya.
Setelah sempat menggunakan nama NBL, kali ini kompetisi basket profesional kembali mengusung nama IBL. Menurut Amran, hal itu sudah sesuai dengan amanat Munas.
"Kenapa IBL lagi? Itu adalah nama yang diamanatkan Munas 2003. Dilihat dari sejarahnya, IBL itu dulu namanya Kobatama dan masih di bawah Perbasi. Klub-klub mengusulkan pengelolaan secara mandiri. Maka diamanatkan di Munas yang diikuti Pengprov-Pengprov di Indonesia," ia melanjutkan.
Untuk menyusun semua agenda IBL, PB Perbasi akan bersinergi dengan Starting Five dan juga Dewan Komisaris.
"Prinsip dasarnya, PP Perbasi tetap mengawasi jalannya liga. Namun kami tidak akan mencampuri konsep dan kreatifitas event yang dikembangkan oleh Starting Five. Karena dalam paparan mereka kepada kami intinya sama yakni ingin memajukan kompetisi bola basket di Indonesia dengan suguhan pertandingan yang baik. SDM mereka juga profesional dibidangnya masing-masing," Amran menambahkan.
Sementara itu, Direktur IBL, Hasan Gozali, menegaskan bahwa Starting Five memang perusahaan yang tergolon baru. Tapi, ia optimistis timnya bisa menjalankan tugas dengan baik.
"Kita di sini bukan untuk menyaingi DBL, tapi meneruskan yang sudah ada. Sebagai perusahaan baru, tekanan memang ada. Tapi, kita berterima kasih kepada DBL karena sudah memberikan benchmark. Kita tak ingin menyaingi, hanya meneruskan," papar Gozali.
sumber:
inilah