
BERITAGOOGLE.COM, Jakarta - Penggunaan alat kontrasepsi jangka panjang ternyata menjadi pilihan sangat efektif dalam mengendalikan jumlah penduduk. Inilah Alasannya.
"Memang menggunakan alat kontrasepsi itu pilihan, tetapi untuk spiral dan implan itu yang paling efektif dibandingkan alat. Kontrasepsi yang harian atau bulanan, yang ternyata banyak lupanya. Kalau jangka panjang kan tidak harus repot," ungkap Dr. Wendy Hartanto, MA, Plt. Deputi Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan BKKBN, di Jakarta, baru-baru ini.
Sejauh ini, Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 mencatat 62 persen menggunakan alat kontrasepsi modern dan tradisional. IUD (4 persen), suntik (32 persen), susuk (3 persen) dan pil 14 persen. Untuk IUD menurun. Tahun 1991 13 persen, sekarang 4 persen.
"Trennya banyak yang memilih suntik dan pil karena dianggap lebih praktis, padahal banyak yang drop," terangnya.
Menurut Wendy, pemakaian alat kontrasepsi jangka pendek berisiko gagal lebih besar ketimbang IUD berjangka panjang. Tak lain, akseptor bisa saja lupa suntik KB sebulan sekali. Angka kegagalan metode suntik pun tinggi mencapai 6/100. Sedangkan metode IUD, angka kegagalannya sangat rendah 0,8 setiap 100. Selain itu, IUD juga bertahan hingga 8 tahun.
"Padahal pemasangan IUD dan implant bagi akseptor bukan gratis. Setiap tahun BKKBN mengalokasikan dana sebanyak Rp500 miliar untuk alat kontrasepsi, tetapi yang banyak dipilih ya, suntik dan pil. Rendahnya minat pasangan usia subur menggunakan alat kontrasepsi jangka panjang menjadi salah satu penyebab program KB mengalami stagnasi dalam 10 tahun terakhir ini," tuturnya.
Dr Julianto Witjaksono SpOG, Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN lantas mengatakan, alat kontrasepsi implan satu batang sama efektif dengan IUD atau spiral. Proses pemasangannya jauh lebih mudah. Kontrasepsi batang 3cm tersebut hanya dimasukan ke dalam lapisan kulit di bagian lengan.
Ini adalah salah satu metode kontrasepsi efektif jangka panjang, implant efektif mencegah kehamilan selama 3 tahun. Tingkat kegagalan lebih sedikit dibanding IUD. Sementara alat KB berupa pil dan suntikan sifatnya jangka pendek dan kerap gagal, terangnya.
Dr pun menjelaskan, saat terpasang benar, metode kontrasepsi tersebut efektivitasnya sampai 99 persen dengan tingkat kegagalan hanya 0,05 dari 100 perempuan pememakainya.
Wendy pun menghimbau masyarakat berperan serta untuk memiliki dua anak saja dengan jarak yang tak berdekatan, dan anak pertama lahir saat ibu berusia 25 tahun.
"Ini semata-mata untuk kelangsungan hidup anak agar status kesehatannya terjaga. Jangan sampai terjadi kemiskinan struktural lagi," tandasnya.
Tak hanya itu, meningkatnya kelahiran anak keluarga tak mampu merupakan perhatian BKKBN.
"BKKBN akan selalu memberikan pelayanan gratis untuk kebutuhan KB pada kelompok orang yang tak mampu. Mau yang pil, suntik, IUD, semua gratis. Hal itu karena kelompok miskin merupakan fokus dari BKKBN," imbuhnya. [aji]
sumber:
inilah